<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>menyusui.net &#187; ASI Perah</title>
	<atom:link href="http://menyusui.net/category/asi-perah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://menyusui.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 04:39:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Bekerja tapi Harus Menyusui? Enggak Masalah..</title>
		<link>http://menyusui.net/asi-perah/bekerja-tapi-harus-menyusui-enggak-masalah/</link>
		<comments>http://menyusui.net/asi-perah/bekerja-tapi-harus-menyusui-enggak-masalah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 02:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ILoveASI</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[asi eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ibu bekerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menyusui.net/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Menyusui terkadang menjadi masalah bagi para wanita bekerja yang memiliki kewajiban menyusui bayinya. Tapi, hal itu tak akan menjadi masalah yang serius jika bisa mengatur manajemen waktunya. Terutama mereka yang masih memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif. Setidaknya hal itu diutarakan beberapa ibu muda yang bekerja dan harus menyusui anak mereka. Ditemui di sela-sela acara [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah-solusi-buat-ibu-bekerja/' rel='bookmark' title='ASI Perah, Solusi Buat Ibu Bekerja'>ASI Perah, Solusi Buat Ibu Bekerja</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/setelah-cuti-melahirkan-berlalu/' rel='bookmark' title='Setelah Cuti Melahirkan Berlalu'>Setelah Cuti Melahirkan Berlalu</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah/' rel='bookmark' title='ASI Perah'>ASI Perah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menyusui terkadang menjadi masalah bagi para wanita bekerja yang memiliki kewajiban menyusui bayinya. Tapi, hal itu tak akan menjadi masalah yang serius jika bisa mengatur manajemen waktunya. Terutama mereka yang masih memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif. Setidaknya hal itu diutarakan beberapa ibu muda yang bekerja dan harus menyusui anak mereka.</p>
<p>Ditemui di sela-sela acara Menyusui Serentak Ibu Indonesia di Jakarta, Sabtu (2/8), Nana yang seorang PNS menceritakan pengalamannya. &#8220;Saya baru 3 bulan yang lalu melahirkan anak pertama saya. Mulai kerja sih baru satu minggu ini. Tadinya bingung juga, <em>gimana </em>ya menyusui kalau nanti saya bekerja. Akhirnya saya cari tahu dari <em>milis</em> dan saya menggunakan ASI perah,&#8221; kata Nana.</p>
<p>ASI perah yang dimaksud Nana, pada jam-jam di mana ia harus memberikan ASI, Nana akan memompa ASI-nya. Kemudian ASI tersebut dimasukkan ke dalam <em>cooler bag.</em>&#8220;Nanti sampai di rumah saya <em>masukin </em>kulkas buat diminumin besok. ASI itu masih baik untuk diminumin ke bayi 3 sampai 4 hari berikutnya. Kalau dimasukin ke <em>freezer </em>malah bisa sampai 3 bulan. Nanti pas mau diminum dipanasin,&#8221; ujar ibu dari Bagas ini.</p>
<p>Lain lagi pengalaman Titik. Ia baru saja melahirkan putri keduanya, Chiara, sekitar 5 bulan lalu. Kali ini Titik bertekad ingin memberikan ASI eksklusif. Sebab, anak pertamanya hanya ia susui selama 40 hari. &#8220;Waktu itu belum pengalaman sih ya. Jadi susunya sedikit, enggak keluar. Anak pertama saya itu bisa dibilang anak susu formula. Setelah itu, saya aktif cari informasi dan akhirnya yang kedua ini lebih bisa saya perhatikan pemberian ASI-nya. Saya kerja juga enggak masalah,&#8221; ujar Titik.</p>
<p>Titik menceritakan, dia selalu memompa ASI-nya pada malam hingga dini hari, jam 19.00 hingga jam 02.00. Seperti halnya Nana, ASI tersebut ia simpan di lemari pendingin untuk cadangan persediaan ASI putrinya esok hari. &#8220;Jadi, sekarang enggak ada masalah dan alasan untuk ibu-ibu yang bekerja untuk tidak menyusui. Asal tahu bagaimana manajemen pemompaan susu, cara <em>nyimpennya</em>,&#8221; kata Nana.</p>
<p>Wakil Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar mengatakan, semakin hari semakin banyak saja ibu-ibu bekerja yang memerhatikan kebutuhan dan pentingnya memberikan ASI eksklusif. Hal itu dilihatnya dari antusiasme para ibu bergabung pada milis AIMI. &#8220;Yang banyak di-<em>share </em>terutama soal gimana caranya kerja tapi tetap bisa <em>ngasih</em>ASI eksklusif. Bahkan, ada seorang ibu yang sampai <em>bela-belain nyewa</em> satu kamar kos untuk bayi dan pengasuhnya. Kosnya di dekat kantor. Jadi, kalau mau menyusui, dia tinggal ke kos saja,&#8221; kata Nia. <strong>(ING)</strong></p>
<p>sumber: kompas</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah-solusi-buat-ibu-bekerja/' rel='bookmark' title='ASI Perah, Solusi Buat Ibu Bekerja'>ASI Perah, Solusi Buat Ibu Bekerja</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/setelah-cuti-melahirkan-berlalu/' rel='bookmark' title='Setelah Cuti Melahirkan Berlalu'>Setelah Cuti Melahirkan Berlalu</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah/' rel='bookmark' title='ASI Perah'>ASI Perah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menyusui.net/asi-perah/bekerja-tapi-harus-menyusui-enggak-masalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siap Kembali Ke Kantor Setelah Cuti Melahirkan</title>
		<link>http://menyusui.net/asi-perah/siap-kembali-ke-kantor-setelah-cuti-melahirkan/</link>
		<comments>http://menyusui.net/asi-perah/siap-kembali-ke-kantor-setelah-cuti-melahirkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 19:33:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ILoveASI</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Problem Menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[ibu bekerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menyusui.net/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan peraturan tenaga kerja yang berlaku di negara kita, ibu bekerja memiliki hak untuk cuti selama 3 bulan. Hak tersebut bisa diambil 1,5 bulan di akhir kehamilan dan 1,5 bulan paska melahirkan. Namun sebagian besar ibu bekerja sering merasa cuti hamil tersebut cepat berlalu. Akibatnya keputusan untuk kembali bekerja selalu menjadi dilema yang harus dihadapi [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/setelah-cuti-melahirkan-berlalu/' rel='bookmark' title='Setelah Cuti Melahirkan Berlalu'>Setelah Cuti Melahirkan Berlalu</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/cuti-melahirkan-dan-memberi-asi-eksklusif/' rel='bookmark' title='Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif'>Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/diet-ibu-anak/langsing-setelah-melahirkan-berkat-pemberian-asi-eksklusif/' rel='bookmark' title='Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif'>Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Berdasarkan peraturan tenaga kerja yang berlaku di negara kita, ibu bekerja memiliki hak untuk cuti selama 3 bulan. Hak tersebut bisa diambil 1,5 bulan di akhir kehamilan dan 1,5 bulan paska melahirkan. Namun sebagian besar ibu bekerja sering merasa cuti hamil tersebut cepat berlalu. Akibatnya keputusan untuk kembali bekerja selalu menjadi dilema yang harus dihadapi para ibu bekerja. </strong></p>
<p>Sebagian ibu memilih untuk tetap tinggal di rumah untuk mengasuh buah hatinya, tentu saja ini tidak salah. Sementara itu ibu yang memilih kembali bekerja dan mempercayakan perawatan bayinya pada pengasuh di rumah tak sedikit yang mengalami stres dalam masa transisi. Para ibu ini sulit menjalankan tugas di kantor sekaligus membagi perhatian antara pekerjaan dan keluarga.</p>
<p>Shock yang dialami para ibu terhadap peran baru mereka tersebut juga bisa dianggap normal. Meski sudah memutuskan untuk kembali bekerja setelah memiliki bayi wajar saja jika seorang ibu merasa kelelahan karena harus bangun di malam hari untuk mengganti popok atau menyusui.</p>
<p>Sebenarnya stres yang dialami ibu bekerja bisa dikurangi jika mereka membuat persiapan yang matang. Persiapan tersebut bisa dimulai sejak sebelum cuti. Hilangkan kekhawatiran bahwa cuti melahirkan akan mengancam karir Anda. Bicarakan dengan atasan mengenai pendelegasian tugas serta kemungkinan apa saja yang bisa terjadi saat Anda kembali bekerja setelah cuti. Dengan cara ini Anda bisa menjalani cuti dengan tenang dan lebih fokus pada keluarga.</p>
<p>Buatlah rencana pengasuhan si kecil dengan suami. Kepada siapakah bayi Anda akan dipercayakan saat Anda berada di kantor, jika dengan orangtua atau mertua tentu Anda bisa sedikit lebih tenang. Namun jika Anda memutuskan untuk mencari pengasuh, ajari pengasuh Anda hal-hal yang perlu ia ketahui dalam merawat anak agar Anda bisa berkonsentrasi pada pekerjaan kantor.</p>
<p>Persiapkan mental Anda paling tidak beberapa minggu sebelum berakhirnya masa cuti. Atur berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi setelah Anda menjalankan peran ganda sebagai ibu dan wanita bekerja. Termasuk di antaranya adalah rasa bersalah harus meninggalkan si kecil serta kehabisan tenaga karena harus mengasuh anak sepulang bekerja.</p>
<p>Dukungan dari orang-orang di sekitar Anda akan sangat membantu Anda dalam mempersiapkan mental sebelum kembali ke kantor. Misalnya suami yang siap menjadi pendengar sekaligus memberi semangat jika Anda mulai merasa putus asa. Mintalah saran dari teman-teman dekat atau keluarga yang sukses menjalankan peran gandanya.</p>
<p>Terakhir, bersikaplah realistik, tidak ada manusia yang sempurna. Selain itu jangan menetapkan target yang terlalu tinggi untuk diri sendiri di awal-awal masa penyesuaian. Selamat bekerja.</p>
<p><strong>Penulis</strong>: An<br />
<strong>sumber</strong>: Kompas Cyber Media, 01 Desember 2007</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/setelah-cuti-melahirkan-berlalu/' rel='bookmark' title='Setelah Cuti Melahirkan Berlalu'>Setelah Cuti Melahirkan Berlalu</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/cuti-melahirkan-dan-memberi-asi-eksklusif/' rel='bookmark' title='Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif'>Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/diet-ibu-anak/langsing-setelah-melahirkan-berkat-pemberian-asi-eksklusif/' rel='bookmark' title='Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif'>Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menyusui.net/asi-perah/siap-kembali-ke-kantor-setelah-cuti-melahirkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah Cuti Melahirkan Berlalu</title>
		<link>http://menyusui.net/asi-perah/setelah-cuti-melahirkan-berlalu/</link>
		<comments>http://menyusui.net/asi-perah/setelah-cuti-melahirkan-berlalu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 10:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ILoveASI</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Manfaat ASI]]></category>
		<category><![CDATA[asi eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ibu bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[sukses asi eksklusif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menyusui.net/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Bayi bisa sedih, takut dan bingung saat ibunya tiba-tiba &#8220;menghilang&#8221; untuk bekerja. Tiga bulan rasanya tidak cukup untuk merawat si kecil yang baru lahir. Tapi kalau cuti melahirkan sudah habis dan ibu telah memantapkan pilihan untuk kembali bekerja, buatlah suatu tindakan transisi yang bisa memudahkan seluruh anggota keluarga. Terutama bagi si kecil yang mesti ber-adaptasi [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/siap-kembali-ke-kantor-setelah-cuti-melahirkan/' rel='bookmark' title='Siap Kembali Ke Kantor Setelah Cuti Melahirkan'>Siap Kembali Ke Kantor Setelah Cuti Melahirkan</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/cuti-melahirkan-dan-memberi-asi-eksklusif/' rel='bookmark' title='Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif'>Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/diet-ibu-anak/langsing-setelah-melahirkan-berkat-pemberian-asi-eksklusif/' rel='bookmark' title='Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif'>Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana; color: #000000; font-size: small;"><em><strong>B</strong></em><span style="font-family: Verdana; color: #000000; font-size: x-small;"><em>ayi bisa sedih, takut dan bingung saat ibunya tiba-tiba &#8220;menghilang&#8221; untuk bekerja.</em></span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana; color: #000000; font-size: small;"> <span style="font-family: Verdana; color: #000000; font-size: x-small;"></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%">
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-large;">T</span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">iga       bulan rasanya tidak cukup untuk merawat si kecil yang baru lahir. Tapi       kalau cuti melahirkan sudah habis dan ibu telah memantapkan pilihan untuk       kembali bekerja, buatlah suatu tindakan transisi yang bisa memudahkan       seluruh anggota keluarga. Terutama bagi si kecil yang mesti ber-adaptasi       dengan kondisi baru. Jangan sampai si bayi merasa kaget dan merasa       terbuang saat ditinggal ibu untuk bekerja. Ingat bayi juga seperti kita       yang memiliki perasaan. Dia bisa sedih, takut dan bingung saat orang yang       paling dekat dengannya (baca ibu) tiba-tiba &#8220;menghilang&#8221;       seharian. Lantaran itu kala ibunya harus kembali bekerja, beberapa bayi       akan rewel, enggan menyusu bahkan ada yang sampai berat badanya menyusut.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Ibu pun demikian. Di kantor       ia bisa gelisah karena pikiran dan hatinya berada di rumah. Alhasil,       jangankan bersemangat dalam bekerja, ibu justru merasa cepat lelah dan       ingin selalu buru-buru pulang. <strong>Evie Sukmaningrum, Psi., M.Si</strong>, dari       Fakultas Psikologi Atma Jaya, Jakarta, mengakui adanya kondisi ini pada       ibu-ibu yang baru saja kembali dari cuti melahirkan. &#8220;Kalau sudah       kepengin pulang jangan ditahan-tahan, pulang saja. Kalaupun ditahan       percuma, malah tidak akan produktif,&#8221; sarannya.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Meski begitu ini bukan       masalah tanpa solusi, lo. Intinya cuma satu; persiapan. Jadi sebelum       kembali bekerja, ibu harus melakukan berbagai persiapan untuk si kecil       juga</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">untuk diri sendiri. Idealnya,       persiapan dilakukan sekurang-kurangnya satu minggu sebelum masuk kerja.       Berikut yang disarankan Evi:</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; color: #ff3300; font-size: x-small;"><strong>BERBAGAI       PERSIAPAN UNTUK BAYI</strong></span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; color: #f80080; font-size: x-small;">1. Biasakan       bayi mendapat ASI perah.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Berikan perahan ASI melalui       sendok bukan dot. Kenapa? Bila menggunakan dot dikhawatirkan si kecil akan       mengalami bingung puting (bayi bingung antara mengisap puting dengan dot       botol). Efek selanjutnya bayi bisa menolak puting ibu (menyusu ASI) jika       ia tahu menyusu dari dot botol lebih mudah ketimbang jika harus mengisap       payudara ibu.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Proses pemberian ASI perah       melalui sendok ini memang tidak mudah. Di hari-hari pertama bisa jadi bayi       akan menolaknya. Ia bahkan bisa cemas dan gelisah dengan gejala rewel,       tidak mau/tidak bernafsu minum susu. Tapi jangan patah semangat dan       terlalu khawatir karena kondisi ini akan berlalu setelah 3-4 hari.       Disarankan pemberian ASI perah ini sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum       cuti melahirkan ibu habis sehingga dapat melancarkan proses adaptasi bayi.       Misalnya dengan membiasakan bayi menerima ASI perah di siang hari       sementara malam harinya menetek langsung dari payudara ibu.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; color: #f80080; font-size: x-small;">2.       Perkenalkan dengan dunia luar.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Perkenalkan bayi dengan       dunia luar selain kamarnya sehingga ia mengetahui adanya lingkungan selain       rumah dan dapat mengenal banyak orang, bukan hanya dirinya, ibunya atau       ayahnya.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; color: #f80080; font-size: x-small;">3. Belajar       ditinggal ibu.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Hal ini perlu dilatih       minimal satu minggu sebelum hari H. Saat itu ibu harus bisa meyakinkan si       kecil, bahwa ibu akan kembali dan akan bersamanya seusai bepergian.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Kondisi ini juga       memungkinkan bayi untuk lebih dekat dan berlama-lama dengan orang yang       mengasuhnya selama ibu bekerja kelak.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; color: #f80080; font-size: x-small;">4. Biasakan       salam &#8220;perpisahan&#8221; sebelum berangkat kerja secara wajar.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Cukup ucapkan salam sambil       menciumnya. Kalau si kecil menangis, jangan ikut larut dengannya (dengan       menunggunya tenang baru pergi, misalnya). Perbuatan seperti itu justru       tidak mendidik dan si kecil akan lebih sulit untuk ditinggal bekerja.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; color: #ff3300; font-size: x-small;"><strong>PERSIAPAN       IBU</strong></span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Mempersiapkan diri sendiri       menjadi penting karena emosi ibu sangat berpengaruh pada bayi. Jika di       kantor ibu resah, gelisah dan tidak nyaman berpisah dengan si kecil,       kemungkinan besar ia akan merasakan hal yang sama di rumah sehingga       menjadi rewel. Maka dari itu, ibu yang sudah harus masuk kerja kembali       perlu melakukan beberapa persiapan, yaitu:</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><strong>1.</strong> Persiapkan mental       untuk meninggalkan bayi. Pupuklah rasa percaya bahwa sang buah hati akan       baik-baik saja di rumah.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><strong>2.</strong> Mulailah belajar       memerah dua minggu sebelum cuti berakhir. Ketika bayi tidur dan payudara       terasa membengkak, segera perahlah payudara lalu simpan ASI perah di       kulkas. Esok siangnya berikan pada bayi.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><strong>3.</strong> Bekerja sama       dengan pengasuh. Tekankan pada pengasuh soal pemberian ASI eksklusif (ini       berarti bayi tidak boleh mendapatkan susu formula/makanan apa pun selain       ASI selama ibu bekerja). Jika yang mengasuh si kecil adalah orangtua       sendiri atau mertua yang pengetahuan akan ASI eksklusif masih terbatas,       jelaskanlah secara baik-baik. &#8220;Bu, bayi 3 bulan harus masih ASI       eksklusif karena ia belum siap mencerna makanan selain ASI,&#8221; misalnya.       Intinya kerja sama yang baik dengan pengasuh amat menentukan keberhasilan       ibu untuk menyusui secara eksklusif.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><strong>4.</strong> Jika menggunakan       jasa <em>babysitter </em>pilihlah yang kompeten dan profesional. Akan lebih       baik, jika sudah memanfaatkan jasa <em>babysitter</em> tersebut sejak       kelahiran si kecil agar dapat memerhatikan cara kerja dan sikapnya.       Berikan &#8220;perluasan&#8221; tugas dan kewajiban kepada pengasuh<em> </em>bayi       setidaknya seminggu sebelum ibu kembali bekerja. Dengan demikian bayi       dapat belajar membiasakan diri dengan sentuhan dan suara orang lain selain       ibunya.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">5. Tetap memberikan ASI       meski dengan cara dan waktu yang berbeda. Memberikan ASI sangat membantu       ibu untuk tetap membentuk ikatan batin dengan bayi. Saat kembali bekerja       ibu masih dapat memberikan ASI secara langsung di waktu-waktu tertentu,       semisal sebelum pergi ke kantor atau malam hari sepulang dari kantor. Di       sela jam kerja, ibu masih dapat merasakan kedekatan dengan si kecil saat       memerah ASI.</span></p>
<p align="center"><span style="font-family: Verdana; color: #cc3300; font-size: medium;">BISA TETAP       EKSKLUSIF</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Sejumlah ibu yang baru       memiliki bayi mengaku terpaksa memberikan susu formula lantaran harus       kembali bekerja. Penyebabnya beragam, ada yang karena produksi ASI menurun       lantaran ibu lelah oleh tekanan pekerjaan. Bayi jadi tidak mau disusui,       dan masih banyak lagi.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Sebenarnya bekerja bukan       alasan untuk berhenti menyusui. Pada awalnya si kecil mungkin akan gelisah       karena mendapat ASI perah sehingga ia menyusu dengan jumlah yang lebih       sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi kok. Umumnya pada       hari keempat, bayi sudah terbiasa. Seberapa pun ASI perah yang ada, akan       diminum. Kalau ditinggali 500 cc akan diminum; begitu juga 300 cc, bahkan       200cc. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi       tak akan kekurangan ASI.</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Menyangkut pemberian ASI       eksklusif ini, sejumlah negara sudah memberikan dukungan sepenuhnya. Di       Inggris, umpamanya, ibu hamil dan melahirkan mendapatkan cuti selama 40       minggu. Sementara di Denmark, ibu mendapat cuti 8 minggu sebelum       melahirkan dan 14 minggu sesudah melahirkan ditambah 10 minggu cuti untuk       merawat bayi.</span></p>
<p align="left"><strong><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Gazali Solahuddin.<br />
sumber: </span></strong><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;">Tabloid Nakita</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></span></span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/siap-kembali-ke-kantor-setelah-cuti-melahirkan/' rel='bookmark' title='Siap Kembali Ke Kantor Setelah Cuti Melahirkan'>Siap Kembali Ke Kantor Setelah Cuti Melahirkan</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/cuti-melahirkan-dan-memberi-asi-eksklusif/' rel='bookmark' title='Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif'>Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/diet-ibu-anak/langsing-setelah-melahirkan-berkat-pemberian-asi-eksklusif/' rel='bookmark' title='Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif'>Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menyusui.net/asi-perah/setelah-cuti-melahirkan-berlalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASI Perah, Solusi Buat Ibu Bekerja</title>
		<link>http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah-solusi-buat-ibu-bekerja/</link>
		<comments>http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah-solusi-buat-ibu-bekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 18:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ILoveASI</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[asi eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[ibu bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[sukses asi eksklusif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menyusui.net/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Jadi, Bu, tak ada alasan untuk tak memberi ASI eksklusif pada si kecil. Sangat dianjurkan menyimpan ASI peras di lemari es karena tahan 2 hari dan kualitasnya pun tak berubah. Sekitar 70 persen ibu di Indonesia bekerja. Ini berarti, banyak ibu yang tak bisa menyusui. Namun bukan berarti si kecil tak bisa mendapatkan ASI sama [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah/' rel='bookmark' title='ASI Perah'>ASI Perah</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/bekerja-tapi-harus-menyusui-enggak-masalah/' rel='bookmark' title='Bekerja tapi Harus Menyusui? Enggak Masalah..'>Bekerja tapi Harus Menyusui? Enggak Masalah..</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/setelah-cuti-melahirkan-berlalu/' rel='bookmark' title='Setelah Cuti Melahirkan Berlalu'>Setelah Cuti Melahirkan Berlalu</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><em><strong>J</strong></em><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;"><em>adi, Bu, tak ada alasan untuk tak memberi ASI eksklusif pada si kecil. Sangat dianjurkan menyimpan ASI peras di lemari es karena tahan 2 hari dan kualitasnya pun tak berubah. </em></span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;"><em></em></span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Sekitar 70 persen ibu di Indonesia bekerja. Ini berarti, banyak ibu yang tak bisa menyusui. Namun bukan berarti si kecil tak bisa mendapatkan ASI sama sekali. Toh, ASI bisa diperas. Dengan begitu, si kecil bisa tetap memperoleh ASI, bahkan ASI eksklusif yaitu hanya ASI tanpa makanan tambahan apa pun hingga si kecil berusia 6 bulan. </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Hanya sayang, ASI peras tak bisa menggantikan tindakan menyusui itu sendiri. Seperti diketahui, tindakan menyusui punya banyak pengaruh untuk pertumbuhan mental dan fisik bayi. &#8220;Kalau saja semua bayi mendapatkan <em>exclusive breast feeding</em> minimal 4 bulan, saya yakin tak akan ada tawuran seperti sekarang ini. Karena anak-anak yang diberi ASI akan tumbuh menjadi anak yang kepribadiannya baik, lantaran mereka tumbuh dalam keadaan yang dinamakan <em>secure attachment</em>, suatu suasana yang aman, hingga mereka akan mempunyai kepribadian yang baik,&#8221; tutur <strong>dr. Utami Roesli, SpA, MBA. </strong></span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Itu sebab, ASI peras hanya dianjurkan bagi bayi-bayi yang ibunya bekerja. &#8220;Bila ibu tak bekerja atau si bayi bisa dibawa ke tempat di mana ibunya berada, harus diusahakan <em>breast feeding</em> atau menyusui langsung, bukan ASI peras,&#8221; lanjut ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu RS Sint. Carolus, Jakarta ini. Jadi, Bu, hanya bila situasi dan kondisinya tak memungkinkan untuk menyusui langsung, barulah si kecil boleh diberi ASI peras/perah. &#8220;Ibaratnya, tak ada rotan, akar pun jadi.&#8221; </span></span></p>
<p><a title="TokoDEA.com dedicated to breastfeeding" href="http://tokodea.com" target="_blank"><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">POMPA PISTON</span></span></a></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Namun sebelum kita memberikan ASI peras pada si kecil, ada beberapa &#8220;aturan&#8221; yang penting diperhatikan. Pertama, sebelum si kecil berusia 4 bulan, sebaiknya ASI peras/perah yang diberikan jangan menggunakan dot dulu karena si kecil akan &#8220;bingung puting.&#8221; Maksudnya, ia akan susah untuk kembali menyusu dengan benar pada payudara ibu. Kedua, bila sudah berada satu atap lagi dengan si kecil, hendaknya ASI peras yang masih ada jangan diberikan lagi, tapi bayi harus menyusu langsung pada ibu. Bukankah tindakan menyusui adalah rotan? Jadi, bila ada rotan, mengapa harus menggunakan akar? </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Adapun cara &#8220;menabung&#8221; ASI peras, yang paling baik dan efektif dengan menggunakan alat pompa ASI elektrik. Hanya saja, harganya relatif mahal. Lagi pula, masih ada cara lain yang lebih terjangkau bila punya dana lebih, yaitu piston atau pompa berbentuk suntikan. Prinsip kerja alat ini memang seperti suntikan, hingga memiliki keunggulan, yaitu setiap jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanannya bisa diatur. </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Ironisnya, pompa-pompa yang ada di Indonesia jarang sekali berbentuk suntikan, lebih banyak berbentuk <em>squeeze and bulb</em>. Padahal, harga kedua pompa tersebut relatif sama. Namun bentuk <em>squeeze and bulb</em> tak pernah dianjurkan banyak ahli ASI. Soalnya, pompa seperti ini sulit dibersihkan bagian <em>bulb</em>-nya (bagian belakang yang bentuknya menyerupai bohlam) karena terbuat dari karet hingga tak bisa disterilisasi. Selain itu, tekanannya tak bisa diatur, hingga tak bisa sama/rata. </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">MEMERAH DENGAN JARI</span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Tentu saja ada yang lebih murah ketimbang pompa-pompa ASI tadi, yaitu memerah dengan jari. Cara <em>back to nature</em> ini amat sederhana dan tak perlu biaya. Namun agar hasil perahannya memuaskan, kita perlu mengenal sedikit anatomi payudara. </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Seperti dijelaskan Utami, payudara terdiri tiga komponen yang prinsipil, yaitu &#8220;pabrik&#8221; (di daerah berwarna putih), saluran, dan &#8220;gudang&#8221; (di daerah warna cokelat atau areola) ASI. Ketiganya seperti bejana berhubungan. &#8220;ASI diproduksi di &#8216;pabrik&#8217;nya yang berbentuk seperti kumpulan buah anggur. Setiap &#8216;pabrik&#8217; ASI dilalui otot-otot. Bila otot-otot ini mengkerut, ia akan memompa ASI ke salurannya menuju &#8216;gudang&#8217;. Nah, agar pabrik memproduksi ASI lagi, syarat utamanya ASI di &#8216;gudang&#8217; harus habis lebih dulu. Bila &#8216;gudang&#8217; kosong, barulah &#8216;pabrik&#8217; akan mengisinya kembali, begitu seterusnya,&#8221; papar Utami. </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Jadi, pada prinsipnya kita harus bisa mengeluarkan ASI yang ada di &#8220;gudang&#8221;. Caranya, tempatkan tangan kita di salah satu payudara, tepatnya di tepi areola. Posisi ibu jari terletak berlawanan dengan jari telunjuk. Tekan tangan ke arah dada, lalu dengan lembut tekan ibu jari dan telunjuk bersamaan. Pertahankan agar jari tetap di tepi areola, jangan sampai menggeser ke puting. Ulangi secara teratur untuk memulai aliran susu. Putar perlahan jari di sekeliling payudara agar seluruh saluran susu dapat tertekan. Ulangi pada sisi payudara lain, dan jika diperlukan, pijat payudara di antara waktu-waktu pemerasan. Ulangi pada payudara pertama, kemudian lakukan lagi pada payudara kedua. Letakan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperas. </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">CARA MENYIMPAN</span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Sebenarnya, tutur Utami, memerah ASI hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila kita hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar. Jadi, kita harus menekan agak ke belakang. &#8220;Bila tak keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah. Mungkin cara memerah susunya seperti melakukan <em>massage</em> payudara. Ini tak akan mengeluarkan ASI, karena yang ditekan pada <em>massage</em> payudara adalah &#8216;pabrik&#8217; ASI bukan &#8216;gudang&#8217;nya. Kan, kita tak bisa langsung mengeluarkan ASI dari &#8216;pabrik&#8217; tapi harus melalui &#8216;gudang&#8217; dulu.&#8221; Jadi, bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi pekerjaan biasa. Waktu yang dibutuhkan pun tak sampai setengah jam, tapi susu yang terkumpul bisa mencapi 500 cc, lo. </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Setelah diperah, ASI harus di simpan dengan baik agar dapat bertahan lama. Menurut Utami, di udara terbuka, ASI perah bisa tahan 6-8 jam, tapi bila ditaruh di kantong plastik lalu dimasukan termos dan diberi es batu, akan tahan kira-kira 1X 24 jam. Lain lagi bila ASI perah dimasukan di lemari es, bisa tahan 2X24 jam. Sedangkan bila dimasukkan dalam <em>freezer</em>, bisa tahan 3 bulan. </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Namun dari semua cara penyimpanan tadi, lebih dianjurkan untuk memasukkan ASI ke dalam termos dan lemari es. &#8220;Sudah dibuktikan, lo, ASI perah yang dimasukkan ke termos dan lemari es tak mengalami perubahan komposisi gizi sama sekali. Hanya mungkin warna dan bentuknya saja yang berubah.&#8221; Tak demikian halnya jika dimasukkan dalam freezer, &#8220;ASI akan mengalami perubahan dalam hal jumlah imunoglobulin, yaitu protein molekul yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh, karena ada yang mati akibat kedinginan.&#8221; </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">SUAPI PAKAI SENDOK</span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Selanjutnya, ketika ingin memberikan ASI perah pada si kecil, kita harus menghangatkannya dulu. Namun jangan dipanaskan di atas api, lo, karena mengakibatkan beberapa enzim penyerapan mati kepanasan. Beberapa buku dari luar menganjurkan untuk menyiram ASI dengan <em>running tap water</em>, tapi di Indonesia, kan, jarang ada keran yang berisi air hangat. Jadi cukup dengan mangkuk yang diisi air hangat (suhu airnya sama dengan suhu air yang biasa kita gunakan untuk mandi atau suhu tubuh). Adapun lama penghangatan tergantung suhu ASI, tapi prinsipnya buatlah suhu ASI seperti suhu tubuh karena akan menyerupai ASI yang dikeluarkan langsung. Nah, setelah selesai bisa langsung diberikan pada bayi. </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Namun cara pemberiannya jangan pakai botol susu dan dot, melainkan disuapi pakai sendok. Kalau si kecil langsung menyusu dari botol, lama-lama ia jadi &#8220;bingung puting&#8221;. Jadi, ia hanya menyusu di ujung puting seperti ketika menyusu dot. Padahal, cara menyusu yang benar adalah seluruh areola ibu masuk ke mulut bayi. Jadi, kalau si kecil sudah &#8220;bingung puting&#8221;, tak heran bila ia gagal mengeluarkan ASI di &#8220;gudang&#8221;nya. Salah satu tanda posisi si kecil salah menyusu ialah payudara ibu lecet. Akhirnya, si kecil jadi ogah menyusu langsung dari payudara lantaran ia merasa betapa sulitnya mengeluarkan ASI. Sementara kalau menyusu dari botol, hanya dengan menekan sedikit saja dotnya, susu langsung keluar. </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Tak usah cemas si kecil akan kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah yang dikeluarkan. Memang, pada awalnya si kecil akan gelisah dengan jumlah yang mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi, kok. &#8220;Maksimal pada hari keempat, bayi akan sudah terbiasa. Seberapa pun ASI yang ada, akan diminum. Kalau ditinggali 500 cc, akan diminum; begitu juga 300 cc, bahkan 200c. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi tak akan kekurangan ASI. Itu sudah dibuktikan, lo,&#8221; tutur Utami. </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;">Nah, Bu, tak ada lagi yang perlu dicemaskan, bukan? Ingat, lo, meski bunda bekerja, si kecil tetap bisa mendapatkan ASI ekslusif! </span></span></p>
<p><span style="font-size: small; color: #000000; font-family: Verdana;"><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;"><em>Faras Handayani .<br />
</em><strong>sumber:</strong> tabloid Nakita<em> </em></span></span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah/' rel='bookmark' title='ASI Perah'>ASI Perah</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/bekerja-tapi-harus-menyusui-enggak-masalah/' rel='bookmark' title='Bekerja tapi Harus Menyusui? Enggak Masalah..'>Bekerja tapi Harus Menyusui? Enggak Masalah..</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/setelah-cuti-melahirkan-berlalu/' rel='bookmark' title='Setelah Cuti Melahirkan Berlalu'>Setelah Cuti Melahirkan Berlalu</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah-solusi-buat-ibu-bekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASI Perah</title>
		<link>http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah/</link>
		<comments>http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2007 05:47:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ILoveASI</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[asi eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[Manfaat ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menyusui.net/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Dr. Najib Advani SpAK MMed Paed, Dokter Spesialis Anak Konsultan-Ahli Jantung Anak (Bagian Kesehatan Anak FKUI RSCM) dan Staf Pengajar FKUI-RSCM Dokter Najib yang baik, saya mempunyai anak yang baru berusia 1 1/2 bulan. Saya ingin sekali memberikan ASI terus kepada anak saya. Namun karena saya bekerja, terpaksa saya memompa ASI dengan breast pump. ASI [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah-solusi-buat-ibu-bekerja/' rel='bookmark' title='ASI Perah, Solusi Buat Ibu Bekerja'>ASI Perah, Solusi Buat Ibu Bekerja</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/bekerja-tapi-harus-menyusui-enggak-masalah/' rel='bookmark' title='Bekerja tapi Harus Menyusui? Enggak Masalah..'>Bekerja tapi Harus Menyusui? Enggak Masalah..</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/manfaat-asi/kualitas-asi/' rel='bookmark' title='Kualitas ASI'>Kualitas ASI</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: x-small; color: #000000; font-family: Verdana;"><strong>Dr. Najib Advani SpAK MMed Paed, </strong><br />
Dokter Spesialis Anak Konsultan-Ahli Jantung Anak (Bagian Kesehatan Anak FKUI RSCM) dan Staf Pengajar FKUI-RSCM</span></p>
<p align="left"><span style="font-family: Verdana;"><em><span style="font-size: x-small;">Dokter Najib yang baik, saya mempunyai anak yang baru berusia 1 1/2 bulan. Saya ingin sekali memberikan ASI terus kepada anak saya. Namun karena saya bekerja, terpaksa saya memompa ASI dengan </span></em><span style="font-size: x-small;">breast pump</span><em><span style="font-size: x-small;">. ASI tersebut saya simpan di botol dan akan diberikan saat saya bekerja. Namun masalahnya, saya tidak tahu aturan pakainya karena petunjuknya memakai bahasa Jepang. Yang ingin saya tanyakan, apakah untuk sterilnya alat tersebut perlu direbus atau cukup direndam dengan air hangat saja? Setelah ASI dimasukkan ke dalam botol berapa lama ASI tersebut dapat bertahan (tanpa dimasukkan kulkas)? Apa yang harus saya perhatikan supaya ASI lebih tahan lama, adakah cara-cara tertentu? Terima kasih atas jawaban yang diberikan.</span></em></span></p>
<p><strong><span style="font-size: x-small; font-family: Verdana;">Naira Ivan Dita -­ via email</span></strong></p>
<p><span style="font-size: x-small; font-family: Verdana;">Pompa ASI (<em>breast pump</em>) ada 2 macam, yang manual dan yang menggunakan mesin. Saya tidak tahu mana yang Ibu gunakan. Untuk sterilisasi sangat tergantung pada bahan yang digunakan. Bahan kaca atau polikarbonat umumnya tahan terhadap suhu tinggi, tetapi bahan karet atau plastik biasa tentu tak akan tahan pada pemanasan tinggi. Sebaiknya cara sterilisasi mengacu pada spesifikasi dari alat tersebut, jika tidak tahu dapat Ibu tanyakan pada penjualnya. </span></p>
<p><span style="font-size: x-small; font-family: Verdana;">ASI yang disimpan dalam wadah sebaiknya tak disimpan pada suhu kamar dan secepatnya diletakkan dalam lemari es. Pada suhu ruangan sebaiknya ASI tidak dibiarkan lebih dari 4 jam. Jika disimpan dalam wadah kaca, sebagian sel darah putih yang bermanfaat untuk kekebalan akan menempel di dinding botol kaca tersebut, tetapi akan lepas lagi dalam satu hari. Jadi jika ingin menyimpan ASI untuk jangka pendek, jangan gunakan botol kaca, tetapi untuk lebih dari 1 hari tidak jadi masalah. Daya tahan ASI paling lama jika disimpan dalam <em>freezer</em> pada suhu -18<sup>0</sup>C bisa selama 3-6 bulan. Daya tahan juga dipengaruhi oleh kebersihan puting, pompa dan wadah penampung selain suhu penyimpanan.</span></p>
<p><strong>sumber: </strong>Tabloid Nakita</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah-solusi-buat-ibu-bekerja/' rel='bookmark' title='ASI Perah, Solusi Buat Ibu Bekerja'>ASI Perah, Solusi Buat Ibu Bekerja</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/bekerja-tapi-harus-menyusui-enggak-masalah/' rel='bookmark' title='Bekerja tapi Harus Menyusui? Enggak Masalah..'>Bekerja tapi Harus Menyusui? Enggak Masalah..</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/manfaat-asi/kualitas-asi/' rel='bookmark' title='Kualitas ASI'>Kualitas ASI</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menyusui.net/asi-perah/asi-perah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuti Melahirkan dan Memberi ASI Eksklusif</title>
		<link>http://menyusui.net/asi-perah/cuti-melahirkan-dan-memberi-asi-eksklusif/</link>
		<comments>http://menyusui.net/asi-perah/cuti-melahirkan-dan-memberi-asi-eksklusif/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Jan 2005 12:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ILoveASI</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASI Perah]]></category>
		<category><![CDATA[Diet Ibu Bayi]]></category>
		<category><![CDATA[Manfaat ASI]]></category>
		<category><![CDATA[asi eksklusif]]></category>
		<category><![CDATA[cuti melahirkan]]></category>
		<category><![CDATA[ibu bekerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menyusui.net/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu dampak kehidupan modern adalah pada pengaturan peran dalam keluarga. Dahulu, pengaturan peran adalah ayah sebagai kepala keluarga yang bertugas antara lain memimpin keluarga dan mencari nafkah, ibu bertanggung jawab untuk urusan dalam rumah, serta anak-anak sebagai anggota keluarga yang disiapkan untuk berkembang di masa depan. KEHIDUPAN modern sedikit menggeser pengaturan tersebut. Kini, para [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/setelah-cuti-melahirkan-berlalu/' rel='bookmark' title='Setelah Cuti Melahirkan Berlalu'>Setelah Cuti Melahirkan Berlalu</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/siap-kembali-ke-kantor-setelah-cuti-melahirkan/' rel='bookmark' title='Siap Kembali Ke Kantor Setelah Cuti Melahirkan'>Siap Kembali Ke Kantor Setelah Cuti Melahirkan</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/diet-ibu-anak/langsing-setelah-melahirkan-berkat-pemberian-asi-eksklusif/' rel='bookmark' title='Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif'>Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu dampak kehidupan modern adalah pada pengaturan peran dalam keluarga.</p>
<p>Dahulu, pengaturan peran adalah ayah sebagai kepala keluarga yang bertugas antara lain memimpin keluarga dan mencari nafkah, ibu bertanggung jawab untuk urusan dalam rumah, serta anak-anak sebagai anggota keluarga yang disiapkan untuk berkembang di masa depan.</p>
<p>KEHIDUPAN modern sedikit menggeser pengaturan tersebut. Kini, para ibu dituntut untuk tidak berperan dalam urusan domestik belaka, tetapi juga urusan di luar rumah, seperti bekerja, tanpa melupakan peran keibuan yang tak tergantikan, yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui.</p>
<p>Dalam suatu keluarga, kelahiran anak membuat ritme kehidupan sehari-hari yang sebelumnya sudah berlangsung tak dapat dipertahankan apa adanya. Harus ada strategi khusus dan beberapa kompromi agar segalanya dapat berjalan baik. Dalam hal ini, untuk kepentingan ibu hamil dan melahirkan, pemerintah memberikan kelonggaran berupa cuti hamil dan melahirkan selama tiga bulan yang biasanya mulai diambil pada masa akhir kehamilan kira-kira 1,5 bulan sebelum melahirkan sampai kira-kira 1,5 bulan sesudah melahirkan. Setelah cuti selesai, diharapkan ibu bersangkutan dapat kembali bekerja dan beraktivitas seperti biasanya. Aturan ini juga dianut lembaga-lembaga swasta di Indonesia.</p>
<p>Mari kita evaluasi lagi tentang cuti tiga bulan tersebut.</p>
<p>Untuk seorang perempuan yang melahirkan, cuti itu sudah memadai. Kondisi fisik sesudah melahirkan bahkan sudah dapat pulih jauh sebelum tiga bulan. Jadi, jika cuti tersebut didasarkan pada pemulihan kondisi fisik ibu, jelas waktu tersebut cukup.</p>
<p>Namun, bagaimana jika ditinjau dari bayi yang baru dilahirkan?</p>
<p>Bayi yang baru lahir menuntut perhatian ekstra besar dan perawatan yang hati-hati. Untuk keperluan nutrisinya, Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan agar bayi baru lahir mendapat ASI eksklusif (tanpa tambahan apa-apa) selama enam bulan. ASI atau air susu ibu adalah nutrisi terbaik bagi bayi dengan kandungan gizi paling sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal. Dalam tulisannya yang terdapat pada situs Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, Rebecca D Williams menyebutkan ASI mengandung sedikitnya 100 macam zat yang tidak terdapat dalam susu formula.</p>
<p>Sekitar 80 persen sel penyusun ASI adalah sel makrofag, yaitu sel yang mampu membunuh bakteri, fungi, dan virus. Untuk perkembangan kecerdasan, ASI mengandung berbagai nutrisi paling tepat untuk mendukung perkembangan kecerdasan bayi. Selain semua yang telah disebutkan di atas, memperoleh ASI merupakan hak asasi setiap bayi sebagaimana Konvensi Hak-hak Anak tahun 1990 telah menegaskan bahwa tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak.</p>
<p>Tak ada jadwal khusus yang bisa diterapkan untuk pemberian ASI pada bayi. Artinya, ibu harus siap setiap saat bayi membutuhkan ASI. Akibatnya, jika ibu diharuskan kembali bekerja penuh sebelum bayi berusia enam bulan, pemberian ASI eksklusif ini tidak bisa berjalan sebagaimana seharusnya.</p>
<p>Jika para ibu ingin mempertahankan pemberian ASI eksklusif pada bayi selama enam bulan, setidaknya ada dua pilihan yang dapat digunakan.</p>
<p>Pertama, mengambil kerja paruh waktu sesudah masa cuti tiga bulan selesai. Artinya, ibu tetap dapat beraktivitas di luar rumah dan memperoleh penghasilan dengan baik, tetapi masih sempat menyisakan waktu untuk bayi. Untuk berjaga-jaga jika bayi membutuhkan ASI saat ibu tak ada di rumah, ASI dapat dipompa keluar dan disimpan dalam botol untuk selanjutnya diberikan kepada bayi.</p>
<p>Namun, ini bukan cara yang bisa diterapkan begitu saja. Selain tidak mudah untuk memompa ASI, ibu yang bersangkutan harus ketat mengatur dietnya agar produksi ASI-nya melimpah sehingga bisa dipompa ke luar. Ambil rata-rata bayi 2-3 bulan dengan berat badan rata-rata 5,5 kilogram membutuhkan minum sebanyak 700-800 mililiter (ml) per hari. Jika ibu meninggalkan rumah rata-rata enam jam per hari, maka ia harus memompa ASI sekitar 400 ml mengingat jadwal pemberian ASI adalah sesuka bayi atau kapan saja.</p>
<p>Ini bukan tugas mudah, tetapi setidaknya lebih baik daripada tidak ada pilihan sama sekali. Jika ibu harus tetap bekerja seperti biasa (artinya meninggalkan rumah seharian penuh), maka tugas memompa ASI menjadi jauh lebih berat.</p>
<p>Kondisi fisik dan mental yang lelah karena harus bekerja sepanjang hari dan terjebak macet dalam perjalanan pergi pulang kantor ditambah diet yang kurang memadai jelas berakibat pada kelancaran produksi ASI. Jangankan untuk dipompa, pemberian ASI secara langsung saja sudah semakin sulit dipertahankan.</p>
<p>Pilihan kedua adalah cuti hamil diberikan selama enam bulan. Memang, jangka waktu cuti ini bisa saja mula-mula dianggap terlalu lama oleh beberapa pihak, terutama pemberi kerja. Namun, jika kita berpikir ke depan, ke generasi yang akan datang, harga yang dibayarkan pada cuti enam bulan ini akan sepadan.</p>
<p>Selama enam bulan pertama dalam kehidupannya, bayi mendapat perawatan langsung dari tangan ibu yang telah melahirkannya. Ibu pulalah orang yang paling dapat memahami bahwa bayi mempunyai hak-hak yang harus dihargai secara utuh, tanpa dibebani kewajiban apa pun, termasuk kewajiban bersikap manis, menurut, dan tidak rewel.</p>
<p>Setelah usianya hampir enam bulan, saat bayi barangkali sudah dapat duduk dan interaksinya dengan lingkungan sekelilingnya juga semakin baik dan berkembang, ibu bisa bersiap-siap beraktivitas kembali seperti semula. Bandingkan jika cuti hamil dan melahirkan hanya selama tiga bulan. Dalam usia belum dua bulan bayi dipaksakan siap ditinggal ibunya sepanjang hari. Mungkin bayi dengan terpaksa harus dititipkan kepada orang lain-pembantu, pengasuh, baby sitter-yang kadang-kadang bahkan belum kita kenal dengan baik.</p>
<p>PEMBERIAN ASI eksklusif dari berbagai segi akan sangat menguntungkan. Selain bagi bayi, ASI bagi ibu dapat mengurangi risiko perdarahan setelah melahirkan, mempercepat pemulihan kesehatan ibu, menunda kehamilan, dan mengurangi risiko terkena kanker payudara. Lebih daripada itu dari sudut pandang psikologis, ASI adalah sarana pendekat hubungan ibu dan bayi paling efektif.</p>
<p>Kedua opsi tersebut, baik kerja paruh waktu maupun cuti enam bulan, memerlukan landasan hukum agar ibu tidak perlu bergantung pada kemurahan hati atasan untuk mengambil cuti atau memilih kerja paruh waktu selama beberapa saat sesudah melahirkan.</p>
<p>Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kita jelas tertinggal jauh.</p>
<p>Di Inggris ibu yang hamil dan melahirkan bisa mendapatkan cuti 40 minggu, yang diambil mulai 11 minggu sebelum hari perkiraan lahir sampai 29 minggu setelah melahirkan. Artinya, mungkin sekali bagi ibu di sana untuk memberikan ASI eksklusif bagi bayinya. Contoh lain, di Denmark, ibu bisa mengambil cuti empat atau delapan minggu sebelum melahirkan dan 14 minggu sesudah melahirkan plus 10 minggu cuti untuk merawat bayi.</p>
<p>Ironis sekali jika melihat kenyataan di Indonesia. Kampanye pemberian ASI eksklusif selama enam bulan tengah mulai digalakkan dan informasi tentang manfaat ASI eksklusif disebarluaskan merata di tengah masyarakat, bahkan pemerintah menetapkan Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) sebagai program nasional. Tetapi, pada kenyataannya tidak ada dukungan yang membuat program ini tidak mustahil dilaksanakan bagi ibu bekerja. Jadi, penyebarluasan informasi bisa saja berhasil baik, tetapi hanya sebatas informasi yang sulit sekali diwujudkan sebagai tindakan nyata.</p>
<p>Selayaknya, mempersiapkan generasi yang tangguh dan cerdas di masa depan adalah tanggung jawab semua pihak. Pemberian ASI eksklusif, bagi bangsa dan negara, berarti menjamin ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan.</p>
<p>Akida M Widad Ibu yang Menjadi Pengajar pada Jurusan Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Surakarta</p>
<p>sumber: Kompas Cyber Media, 20 Desember 2004</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/setelah-cuti-melahirkan-berlalu/' rel='bookmark' title='Setelah Cuti Melahirkan Berlalu'>Setelah Cuti Melahirkan Berlalu</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/asi-perah/siap-kembali-ke-kantor-setelah-cuti-melahirkan/' rel='bookmark' title='Siap Kembali Ke Kantor Setelah Cuti Melahirkan'>Siap Kembali Ke Kantor Setelah Cuti Melahirkan</a></li>
<li><a href='http://menyusui.net/diet-ibu-anak/langsing-setelah-melahirkan-berkat-pemberian-asi-eksklusif/' rel='bookmark' title='Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif'>Langsing Setelah Melahirkan Berkat Pemberian ASI Eksklusif</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menyusui.net/asi-perah/cuti-melahirkan-dan-memberi-asi-eksklusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

