Keajaiban Satu Jam Pertama

Pasangan vokalis Jikustik, Pongki Barata dan Sophie Navita, sedang berbahagia menyambut kelahiran putra kedua mereka, Radya Tuaro Putra Barata, pada Senin (23/7) pukul 01.16 lewat persalinan normal.

Begitu lahir, bayi tidak dipisahkan, tetapi langsung ditaruh di dada ibu. Jadi, bayi hanya dilap, tidak dimandikan, vernix (lemak putih) masih menempel di tubuhnya. Semua tindakan invasif pada bayi, seperti suntikan dan pemberian vitamin, ditunda. “Aku dekap bayiku. Agar tidak kedinginan, kami diselimuti, bayiku dikenakan topi,” kata Sophie.

Kulit Sophie dan bayinya pun bersentuhan. Ia terus mengajak ngobrol, mengelus punggung bayinya, tanpa memaksa anaknya menyusu. Beberapa saat kemudian, bayi mulai mengangkat kepala, menoleh ke kiri dan kanan. Selama sekitar 25 menit, bayi itu berusaha mencari sendiri puting susu ibunya. “Kakinya mancal-mancal, tangan mulai bergerak. Tanpa diajari, bayiku merangkak di atas perut mencari puting susu,” tuturnya.

Bagi pasangan muda ini, inisiasi dini menyusu itu tidak terlupakan dan sulit digambarkan dengan kata-kata. Rasa letih dan kesakitan pun lenyap.

Proses inisiasi awal menyusu ini pun direkam kamera. Nantinya, hasil rekaman video itu akan digunakan untuk bahan penyuluhan. Sebab, inisiasi dini menyusu ini relatif baru dan belum dikenal luas di kalangan masyarakat dan tenaga medis. Padahal, inisiasi awal itu akan mengurangi tingkat stres bayi dan bisa menekan angka kematian bayi pada beberapa bulan pertama kehidupannya. Karena hal ini belum banyak dikenal, Sophie mengaku mempersiapkan diri sejak awal masa kehamilan.

Dukungan keluarga

Dukungan keluarga juga sangat penting dalam inisiasi dini. “Banyak perempuan yang saya temui mengurungkan niatnya melakukan inisiasi dini lantaran tidak didukung keluarga. Sebab, ada anggapan sebagian masyarakat bahwa proses menyusu itu natural sehingga tanpa perlu ada inisiasi dini,” kata perempuan usia 32 tahun ini.

Dibandingkan dengan kelahiran anak pertama, Rangga Namora Putra Barata (3 tahun 8 bulan), yang tanpa inisiasi awal menyusu, problem menyusui pada putra kedua ini jauh berkurang. Sebab, bayi lebih punya refleks menyusu dan ASI jadi lebih lancar. “Ini sangat berpengaruh pada kelancaran ASI. Banyak perempuan jadi bete karena anak susah disusui. Padahal, kalau bete, ASI jadi susah keluar,” tutur Sophie.

Angka kematian bayi

Unicef memperkirakan, pemberian ASI eksklusif sampai usia enam bulan dapat mencegah kematian 1,3 juta anak berusia di bawah lima tahun. Suatu penelitian di Ghana yang diterbitkan jurnal Pediatrics menunjukkan, 16 persen kematian bayi dapat dicegah melalui pemberian ASI pada bayi sejak hari pertama kelahirannya. Angka ini naik menjadi 22 persen jika pemberian ASI dimulai dalam satu jam pertama setelah kelahiran bayi.

“Lebih dari sepertiga kematian anak terjadi pada bulan-bulan pertama yang rawan dalam hidupnya,” kata Direktur Eksekutif Unicef Ann M Veneman. Setiap tahun, empat juta bayi meninggal pada 28 hari pertama setelah lahir. Masalah ini terutama sangat relevan di Sub-Sahara Afrika, yang punya angka kematian bayi tertinggi di dunia.

Pemberian ASI sejak dini atau segera seusai kelahiran dapat mencegah jumlah kematian bayi yang signifikan di negara berkembang. Menyusui satu jam pertama diperkirakan menyelamatkan satu juta nyawa bayi. “Pemberian ASI sejak dini dan memberi makanan bergizi bisa melindungi bayi terhadap penyakit mematikan,” kata Veneman.

“Kontak antara kulit ibu dan kulit bayi segera setelah lahir dan menyusu sendiri dalam satu jam pertama kehidupan sangat penting,” kata dr Utami Roesli SpA dari Sentra Laktasi Indonesia. Selain itu, bayi jadi lebih tenang, kurang stres, pernapasan dan detak jantungnya lebih stabil. Bayi akan tercemar lebih dulu oleh bakteri dari ibu yang tidak berbahaya atau ada antinya di ASI ibu. Bakteri ini akan membuat koloni di usus dan kulit bayi menyaingi bakteri yang lebih ganas dari lingkungan. “Bayi juga mendapat kolostrum, cairan emas kaya antibodi, dan zat-zat penting untuk kelangsungan hidup bayi,” ujarnya.

Sentuhan, emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu akan merangsang keluarnya oksitosin yang penting untuk menyebabkan rahim berkontraksi sehingga membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan pada ibu. Sentuhan itu juga merangsang hormon lain yang membuat ibu jadi tenang, relaks dan mencintai bayi, serta merangsang pengaliran ASI dari payudara.

Sayangnya, di Indonesia hanya delapan persen ibu memberi ASI eksklusif kepada bayinya sampai berumur enam bulan dan hanya empat persen bayi disusui ibunya dalam waktu satu jam pertama setelah kelahirannya. Padahal, diperkirakan sekitar 30.000 kematian bayi baru lahir (usia di bawah 28 hari) di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian ASI pada satu jam pertama setelah lahir.

Penerapan inisiasi dini juga terbentur kendala maraknya penggunaan susu formula di rumah sakit, termasuk terhadap bayi baru lahir. Hal ini disebabkan ketidaktahuan petugas kesehatan dan gencarnya promosi susu formula ke tempat layanan kesehatan meski melanggar kode etik pemasaran susu formula. “Di beberapa negara, seperti Kuwait, pemerintah setempat telah melarang pemasaran susu formula di rumah sakit,” kata Utami.

Tata laksana

“Pada jam pertama bayi menemukan payudara ibunya, ini awal hubungan menyusui berkelanjutan dalam kehidupan antara ibu dan bayi menyusu,” kata Utami. Kontak dengan bayi sejak dini itu membuat menyusui menjadi dua kali lebih lama, bayi lebih jarang infeksi, dan pertumbuhannya lebih baik. Di Indonesia, pemberian ASI dini dua hingga delapan kali menjadikan kemungkinan memberi ASI eksklusif lebih besar.

Inisiasi dini yang kurang tepat adalah menyorongkan mulut bayi ke puting ibunya untuk disusui segera setelah lahir saat bayi belum siap minum. Ini bisa mengurangi tingkat keberhasilan inisiasi awal menyusu. Bayi baru menunjukkan kesiapan untuk minum 30-40 menit setelah dilahirkan. Pada persalinan dengan operasi, inisiasi dini butuh waktu hingga lebih dari satu jam dengan tingkat keberhasilan 50 persen.

Dalam inisiasi dini, perlu ada pendamping ibu saat melahirkan, tidak memakai obat kimiawi dalam menolong ibu saat melahirkan. Ibu dibiarkan menentukan cara dan posisi melahirkan. “Begitu lahir, keringkan bayi secepatnya tanpa menghilangkan vernix atau lemak yang menyamankan kulit bayi, lalu ditengkurapkan di atas dada atau perut ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Keduanya diselimuti. Jika perlu, bayi dikenakan topi,” tuturnya.

Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu sendiri. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut. Jika perlu, ibu boleh mendekatkan bayi pada puting, tetapi jangan memaksakan bayi ke puting susu. Bayi dibiarkan dalam posisi bersentuhan dengan kulit ibu sampai proses menyusu pertama selesai. “Prosedur invasif harus ditunda.

Sumber: Kompas
Penulis: Evy Rachmawati
diambil dari: Kompas Cyber Media, 03 Agustus 2007

Artikel lain:

  1. Annisa Pohan Menyusui Dini
  2. Inisiasi Menyusui Dini Cegah Kematian Bayi
  3. VIRA YUNIAR: ASI Tetap NOMOR Satu
  4. Menyusui, Selamatkan Ibu dari Kanker Payudara
  5. Menyusui pun Butuh Bantuan Ayah

Written by ILoveASI on August 6, 2007 under Manfaat ASI, Selebriti Menyusui.

Comments

No Comments

Add a Comment

* means field is required.

Name *

Mail *

Website